Mengubah Iri Hati Demi Meraih Ridho Ilahi

Mengubah Iri Hati Demi Meraih Ridho Ilahi

Pengantar

Imam Hasan Al-Bashri bertutur, "maa khalaa jasadun min hasadin, walaakin, al-kariimu yukhfiihi wal-laiimu yubdiihi" [tidak ada jasad yang terbebas dari hasad, tetapi orang yang mulia akan menyembunyikannya dan yang hina akan menampakkannya].

Setiap yang berjasad, baik manusia maupun binatang, tidak lepas dari gejolak harapan atau keinginan hilangnya nikmat, baik berupa harta maupun kedudukan, dan lain-lain, bahkan kebahagiaan yang dimiliki dan dirasakan orang lain hilang/lenyap dan berpindah pada dirinya. Kata lainnya, hasad adalah iri atau dengki. Istilah dalam bahasa Inggris disebut envy dan jealousy.

Imam An-Nawawi mengungkapkan bahwa hasad adalah: "Tamannii zawaalan-ni'mati 'anil-ghairi sawaaun intaqalat ilaika au lam tantaqil" [berharap agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang, baik berpindah kepadamu atau tidak]. Ungkapan Imam An-Nawawi tersebut digunakan juga oleh ulama yang lain untuk mendefinisikan atau menjelaskan hakikat hasad.

Tak terkecuali orang yang beriman, gejolak ini akan selalu mengiringinya dalam setiap interaksi. Allah menjadikannya sebagai potensi yang tidak diciptakan dengan sia-sia. Hasad adalah bagian dari fitrah agar manusia tergerakkan untuk berbuat. Hasad dihadirkan sebagai ruang ujian agar manusia tersadarkan mengenai status keimanannya.

Hasad dalam Al-Quran

Kata hasad dalam Al-Quran terdapat dalam empat tempat, antara lain:

  1. QS. Al-Baqarah [2]: 109 وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ۖ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ "Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." Kaum Yahudi dan Nasrani tahu bahwa agama Islam adalah agama yang benar dan kaum muslimin berada dalam kebenaran. Mereka juga menyaksikan kebahagiaan dan ketenangan hidup serta bagusnya perilaku kaum muslimin yang asalnya jahil dalam kemusyrikan. Bahkan, mereka sudah tahu sejak lama sebelum kelahiran Nabi Muhammad. Tapi kedengkian telah menutup hati mereka untuk menerima kebenaran. Tidak berhenti dari itu, mereka terus memelihara angan-angan dan keinginan agar kaum muslimin kembali hina. Dengan segala cara mereka mempersulit kaum muslimin.
  2. QS. An-Nisa [4]: 54 أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۖ فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُم مُّلْكًا عَظِيمًا "Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar." Iri dengki kaum Yahudi kepada kuatnya pengaruh dakwah Nabi Muhammad hingga meluaskan wilayah kaum muslimin telah melupakan segala pengutamaan Allah kepada mereka sejak zaman nenek moyangnya yang selalu mereka banggakan. Nabi-nabi keturunan Bani Israil, yang notabene adalah anak cucu Nabi Ibrahim, telah diberikan kitab, hikmah, dan bahkan kerajaan yang besar. Mereka mengolok-olok Nabi Muhammad, tapi mereka lupa bahwa Nabi Daud dan Nabi Sulaiman pun diberikan karunia yang serupa.
  3. QS. Al-Fath [48]: 15 سَيَقُولُ الْمُخَلَّفُونَ إِذَا انطَلَقْتُمْ إِلَىٰ مَغَانِمَ لِتَأْخُذُوهَا ذَرُونَا نَتَّبِعْكُمْ ۖ يُرِيدُونَ أَن يُبَدِّلُوا كَلَامَ اللَّهِ ۚ قُل لَّن تَتَّبِعُونَا كَذَلِكُمْ قَالَ اللَّهُ مِن قَبْلُ ۖ فَسَيَقُولُونَ بَلْ تَحْسُدُونَنَا ۚ بَلْ كَانُوا لَا يَفْقَهُونَ إِلَّا قَلِيلًا "Orang-orang Badwi yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan: 'Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kamu'; mereka hendak mengubah janji Allah. Katakanlah: 'Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami'; demikian Allah telah menetapkan sebelumnya; mereka akan mengatakan: 'Sebenarnya kamu dengki kepada kami'. Bahkan mereka tidak mengerti melainkan sedikit sekali." Kalangan munafik marah karena tidak diajak untuk pembagian ghanimah perang Khaibar. Sebabnya karena Allah melarang Nabi mengajak mereka, pasalnya saat diseru berperang, mereka enggan dengan berbagai alasan. Atas tidak dilibatkannya mereka, mereka menuduh bahwa Nabi dan para sahabat telah dengki kepada mereka. Sungguh kontradiktif.
  4. QS. Al-Falaq [113]: 5 وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ "Dan dari kejahatan orang yang hasad apabila dia hasad." Kita diwajibkan berlindung dari kedengkian para pendengki. Ayat ini diawali dengan kewajiban berlindung dari kejahatan sihir. Rangkaian ayat ini dimaksudkan bahwa pelaku sihir didorong oleh motif dengki. Para pendengki, jika tidak mampu menzalimi dengan cara kasar dan terbuka, maka ia berpotensi melakukannya secara halus dan gaib.

Efek Hasad

Hasad sungguh berbahaya. Segala kebaikan yang telah dilakukan bisa lenyap dan hanya tinggal debu. Nabi telah mewanti-wanti agar kita menjauhi hasad karena hasad akan membakar kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar. Oleh karena itu, Nabi melarang kaum muslimin untuk saling mendengki, karena hal itu akan memicu kebencian, sikap saling membelakangi, dan memutuskan hubungan persaudaraan.

Iri Dengki yang Dibolehkan

Allah Maha Adil dan tidak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia. Jika gejolak hasad senantiasa menempel dalam diri manusia, Allah memberikan saluran agar gejolak itu tidak membahayakan. Ada dua "hasad" (yang disebut Ghibthah) yang dibolehkan, yaitu:

  1. Dengki kepada seseorang yang diberi keutamaan dengan Al-Quran, siang malam membacanya.
  2. Kepada orang yang dilimpahi banyak harta, siang malam ia menginfakkannya.

Kepada orang yang seperti ini, dibolehkan untuk "iri" guna memicu motivasi agar dapat melakukan hal yang sama. Umar bin Khattab selalu ingin meniru amal saleh yang dilakukan oleh Abu Bakar, bahkan menjadikannya pesaing dalam kebaikan. Itulah yang disebut ghibthah.

Kesimpulan

Hasad tidak bisa dihilangkan, tapi bisa dikendalikan bahkan diubah menjadi potensi kebaikan. Prinsipnya, selama tidak dilanjutkan dengan tindakan yang menzalimi orang yang didengki, maka keimanan kita selamat. Namun, jika diiringi tindakan nyata untuk menzalimi, maka itu telah membahayakan iman dan amal kebaikan kita.

Ketika muncul gejolak dalam jiwa karena melihat orang lain mendapatkan kemuliaan (harta atau kedudukan), ucapkanlah turut bahagia. Tersenyumlah, lalu memohonlah kepada Allah agar kita bisa diantarkan untuk mendapatkan hal yang sama. Lawanlah bisikan yang menginginkan hilangnya keutamaan dari orang lain tersebut. Insya Allah kita akan selamat dari bahaya hasad.

Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk mengubah gejolak hasad menjadi maslahat. Aamiin.